MELAKA — Perhimpunan Ilmuwan Pesisir Selat Melaka (PIPSM) sukses melaksanakan rangkaian Kuliah Kerja Nyata Khazanah Islam Pesisir Selat Melaka dan Kolokium Internasional 2026 di Melaka Klik disini, Malaysia. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan akademik, pengabdian masyarakat, pembelajaran lintas budaya, serta penguatan jejaring perguruan tinggi di kawasan Pesisir Selat Melaka.
Program internasional tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi PIPSM, Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) Dumai, Universiti Teknologi MARA (UiTM) Cawangan Melaka, dan sejumlah mitra akademik serta kelembagaan di Malaysia. Berdasarkan agenda yang telah disiapkan, rangkaian KKN Internasional berlangsung pada 20–28 Juli 2026 di Melaka.
Pelaksanaan KKN dan Kolokium Internasional 2026 merupakan bagian dari ikhtiar PIPSM dalam membangun jaringan keilmuan yang menghubungkan perguruan tinggi, ilmuwan, mahasiswa, lembaga masyarakat, dan pusat-pusat kajian di kawasan Selat Melaka. Program ini tidak hanya mempertemukan peserta dari dua negara, tetapi juga menghidupkan kembali kesadaran bahwa Selat Melaka sejak dahulu merupakan jalur ilmu, perdagangan, dakwah, kebudayaan, dan pertumbuhan peradaban Islam Melayu.
Salah satu agenda utama kegiatan adalah Kolokium Internasional yang melibatkan dosen, pensyarah, mahasiswa, dan mahasiswa pascasarjana. Forum tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai pendidikan Islam, komunikasi, budaya Melayu, pengabdian masyarakat, dan khazanah Islam kontemporer di kawasan Pesisir Selat Melaka.
Kolokium tersebut memperkuat dimensi akademik KKN Internasional. Mahasiswa tidak hanya melakukan kunjungan dan aktivitas lapangan, tetapi juga mengikuti diskusi ilmiah, menyampaikan pemikiran, mengembangkan kemampuan akademik, serta membangun keberanian berkomunikasi dalam lingkungan internasional.
Dalam persiapan kegiatan, IAITF Dumai dan UiTM Cawangan Melaka telah membahas aspek teknis dan akademik secara bersama. Pertemuan persiapan melibatkan pimpinan Lembaga Penjaminan Mutu, LP2M, Fakultas Tarbiyah IAITF, Koordinator Akademi Pengajian Islam Kontemporari UiTM Melaka, Direktur Pascasiswazah, serta sejumlah pensyarah.
Program KKN Internasional 2026 diarahkan pada pengabdian masyarakat yang berkelanjutan, penguatan wawasan keilmuan Islam, pembelajaran lintas budaya, dan perluasan jejaring akademik. Rangkaian kegiatan juga dirancang untuk memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa mengenai kehidupan masyarakat, institusi pendidikan, sejarah, serta perkembangan Islam di Melaka.
Salah satu penguatan keilmuan dalam program ini adalah pembelajaran dan eksplorasi di Kompleks Falak Al-Khawarizmi Melaka. Tempat tersebut menjadi salah satu pusat pengembangan astronomi dan ilmu falak Islam di Malaysia. Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh wawasan mengenai hubungan antara ilmu pengetahuan, ibadah, sejarah, teknologi, dan tradisi intelektual Islam.
Pelaksanaan program juga mengangkat khazanah ulama, manuskrip, pendidikan Islam, sejarah bandar Melaka, budaya Melayu, serta dinamika masyarakat pesisir. Tema-tema tersebut selaras dengan orientasi PIPSM dalam menjadikan kawasan Selat Melaka sebagai ruang penelitian multidisipliner dan pengembangan pengetahuan.
Kegiatan KKN Internasional tidak diposisikan sebagai perjalanan akademik biasa. Peserta diarahkan untuk melakukan pengamatan, mencatat temuan, berdiskusi dengan akademisi dan masyarakat, serta mengolah pengalaman lapangan menjadi bahan tulisan, penelitian, dan publikasi ilmiah.
Keberhasilan kegiatan ini memperlihatkan kuatnya kolaborasi antara IAITF Dumai dan UiTM Cawangan Melaka. Kerja sama tersebut mencakup bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, forum akademik, mobilitas mahasiswa, dan pertukaran pengalaman kelembagaan.
PIPSM sebagai penggagas jaringan ilmuwan kawasan pesisir memainkan peran penting dalam mempertemukan berbagai potensi tersebut. Melalui pendekatan lintas negara, PIPSM mendorong agar penelitian mengenai Selat Melaka tidak berhenti pada pembahasan masa lalu, tetapi juga diarahkan pada pembangunan masyarakat, pendidikan, ekonomi, kebudayaan, dan keberlanjutan kawasan.
Rektor IAITF Dumai sekaligus tokoh penggerak PIPSM, Assoc. Prof. Dr. H. M. Rizal Akbar, M.Phil., menilai KKN dan Kolokium Internasional sebagai bagian penting dari internasionalisasi pendidikan tinggi. Menurutnya, mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman langsung dalam berinteraksi dengan masyarakat dan akademisi lintas negara agar memiliki wawasan yang luas, kemampuan adaptasi, dan kesadaran terhadap akar kebudayaan serumpun.
Kegiatan internasional ini juga menegaskan distingsi IAITF Dumai dalam pengembangan kajian Khazanah Pendidikan Pesisir Selat Melaka. Distingsi tersebut menempatkan pendidikan Islam, ulama, Kitab Jawi, lembaga pendidikan, budaya Melayu, dan sejarah masyarakat pesisir sebagai bidang kajian yang terus dikembangkan melalui pengajaran, penelitian, serta pengabdian masyarakat.
Pandangan mengenai pentingnya distingsi tersebut sebelumnya juga mendapat apresiasi akademik. Kajian Khazanah Pendidikan Pesisir Selat Melaka dinilai relevan bagi pengembangan Program Pendidikan Agama Islam dan penguatan posisi perguruan tinggi Islam yang berada di kawasan pesisir.
Selain kegiatan akademik, rangkaian KKN Internasional menghadirkan proses pembelajaran sosial dan budaya. Mahasiswa berhadapan langsung dengan perbedaan sistem pendidikan, tata kelola lembaga, gaya komunikasi, kebiasaan masyarakat, dan praktik kehidupan beragama di Malaysia.
Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam membentuk mahasiswa yang terbuka, moderat, komunikatif, dan mampu bekerja dalam lingkungan multikultural. Inilah salah satu kekuatan KKN internasional: ruang kelasnya bukan lagi dibatasi dinding kampus, melainkan meluas ke masyarakat, museum, masjid, pusat ilmu, kampung, dan bandar bersejarah.
PIPSM juga memandang bahwa keterhubungan Indonesia dan Malaysia bukan hanya disebabkan oleh kedekatan geografis. Kedua negara memiliki hubungan sejarah, bahasa, agama, adat, perdagangan, pendidikan, dan kekeluargaan yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Karena itu, pelaksanaan KKN dan Kolokium Internasional di Melaka memiliki makna simbolis. Selat yang secara administratif menjadi batas negara justru berfungsi sebagai jambatan yang mempertemukan kembali saudara serumpun melalui ilmu pengetahuan.
Nuansa kebudayaan Melayu turut menguatkan pembukaan dan pelaksanaan kegiatan. Lantunan syair, penggunaan bahasa Melayu, pembahasan sejarah ulama, serta pengenalan tradisi setempat menunjukkan bahwa kebudayaan dapat menjadi media diplomasi akademik yang santun dan berkesan.
Syair “Ulama dan Peradaban” karya Assoc. Prof. Dr. H. M. Rizal Akbar, M.Phil., yang dilantunkan dalam pembukaan kegiatan, membawa pesan mengenai rihlah ilmu, hubungan persaudaraan, sejarah Melaka, dan warisan ulama. Kehadiran syair tersebut menambah dimensi sastra dan budaya dalam forum akademik internasional.
Keberhasilan program tahun 2026 melanjutkan tradisi pelaksanaan KKN KIPSM pada tahun-tahun sebelumnya. Dalam penyelenggaraan terdahulu, kegiatan KKN KIPSM juga menggabungkan studi ilmu falak, kajian wakaf, eksplorasi budaya, kunjungan situs bersejarah, dan interaksi dengan lembaga masyarakat di Melaka.
Pengalaman program sebelumnya menunjukkan bahwa peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga wawasan mengenai pengelolaan lembaga, ekonomi Islam, wakaf korporat, pembangunan masyarakat, dan peluang kolaborasi antarnegara. Salah satu kegiatan terdahulu, misalnya, mempertemukan peserta dengan Dewan Perdagangan Islam Malaysia untuk membahas inovasi wakaf dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Model kegiatan tersebut terus dikembangkan dalam pelaksanaan 2026 dengan memperkuat unsur akademik, penelitian, pengabdian, publikasi, dan jejaring institusional. Dengan demikian, hasil kegiatan tidak berhenti pada dokumentasi perjalanan, tetapi diharapkan melahirkan tulisan ilmiah, buku, artikel, penelitian bersama, dan program tindak lanjut.
Kesuksesan KKN dan Kolokium Internasional 2026 juga ditopang oleh koordinasi para panitia, dosen pendamping, pensyarah, mahasiswa, pengelola institusi, dan mitra di Malaysia. Kerja bersama tersebut menunjukkan bahwa agenda internasional memerlukan perencanaan matang, pembagian tugas, disiplin waktu, komunikasi lintas lembaga, dan komitmen bersama.
Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi pengalaman yang memperkaya kompetensi akademik dan sosial. Mereka belajar menyampaikan pendapat, bekerja dalam kelompok, menjaga nama baik institusi, menghargai budaya tuan rumah, serta menerapkan ilmu yang diperoleh di kampus.
Bagi perguruan tinggi, program ini memperluas jaringan kemitraan dan membuka peluang baru dalam penelitian bersama, publikasi internasional, pertukaran mahasiswa, visiting lecturer, seminar, konferensi, dan pengembangan kurikulum berbasis kawasan.
Bagi PIPSM, keberhasilan tersebut memperkuat perannya sebagai wadah ilmuwan dan institusi yang memiliki perhatian terhadap sejarah, pendidikan, ekonomi, budaya, masyarakat, dan pembangunan berkelanjutan di kawasan Pesisir Selat Melaka.
Pelaksanaan KKN dan Kolokium Internasional 2026 menjadi bukti bahwa kerja sama serumpun dapat menghasilkan program yang konkret. Ilmu tidak hanya dibicarakan di ruang seminar, tetapi dipertemukan dengan realitas masyarakat. Kebudayaan tidak hanya dipamerkan, tetapi dijadikan jalan untuk membangun saling pengertian.
Melalui kegiatan ini, PIPSM bersama IAITF Dumai dan UiTM Cawangan Melaka kembali menegaskan komitmen untuk mengembangkan pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, dan diplomasi kebudayaan secara berkelanjutan.
Ke depan, hasil KKN dan Kolokium Internasional diharapkan ditindaklanjuti melalui publikasi karya mahasiswa, riset kolaboratif, dokumentasi khazanah ulama, pengembangan kajian manuskrip, seminar berkala, serta perluasan mitra perguruan tinggi di kawasan Asia Tenggara.
KKN dan Kolokium Internasional 2026 akhirnya tidak hanya meninggalkan catatan perjalanan, tetapi juga memperkuat keyakinan bahwa masa depan Pesisir Selat Melaka dapat dibangun melalui ilmu, iman, kebudayaan, dan persaudaraan.
Dalam semangat tersebut, PIPSM terus berupaya menjadikan Selat Melaka bukan sebagai pemisah, melainkan sebagai jambatan ilmu dan peradaban yang menyatukan masyarakat serumpun menuju kerja sama yang lebih maju dan berkelanjutan.