PIPSM Selat Melaka
Perhimpunan Ilmuan Pesisir Selat Melaka

PIPSM Gelar International Conference dan Anugerah Ilmuwan Pesisir Selat Melaka 2026, Angkat Selat Melaka sebagai Poros Peradaban Global

20 September 2026 | 26 Dilihat
PIPSM Gelar International Conference dan Anugerah Ilmuwan Pesisir Selat Melaka 2026, Angkat Selat Melaka sebagai Poros Peradaban Global

Dumai — Perhimpunan Ilmuwan Pesisir Selat Melaka (PIPSM) akan menggelar International Conference PIPSM 2026 & The Coastal Malacca Strait Scholars Award 2026 pada 12 November 2026. Kegiatan internasional ini mengangkat tema besar “The Malacca Strait as a Global Axis of Civilization: History, Manuscripts, Knowledge and Sustainable Development.” Daftar Klik disini

Konferensi dirancang dalam format hybrid, memadukan pelaksanaan secara langsung dan daring. Rangkaian kegiatan mengambil kawasan Dumai–Kampar–Pekanbaru, Riau, Indonesia, sebagai bagian dari upaya memperkuat jejaring keilmuan lintas negara di kawasan Pesisir Selat Melaka.

Kegiatan ini berangkat dari pandangan bahwa Selat Melaka tidak hanya penting sebagai jalur pelayaran dan perdagangan internasional, tetapi juga merupakan ruang pertemuan peradaban yang selama berabad-abad mempertemukan dunia Melayu dengan jaringan keilmuan, perdagangan, keagamaan, bahasa, diplomasi, dan kebudayaan global. Karena itu, kajian mengenai Selat Melaka membutuhkan pendekatan lintas disiplin yang menghubungkan masa lalu dengan agenda pembangunan masa depan.

Konferensi ini akan menghadirkan Prof. Dr. Solehah Yaacob mantan Pensyarah International Islamic University Malaysia (IIUM/UIAM) sebagai Keynote Speaker. Kehadiran akademisi Malaysia tersebut diharapkan memperkuat pembahasan mengenai manuskrip, tradisi intelektual Islam-Melayu, bahasa, serta perkembangan ilmu pengetahuan di kawasan Selat Melaka.

Panitia menetapkan sembilan rumpun utama sebagai subtema konferensi, yakni kajian sejarah, kesultanan dan peradaban Selat Melaka; manuskrip, ulama dan pendidikan Islam kawasan pesisir; bahasa, sastra dan identitas Melayu; arkeologi, situs warisan dan sejarah peradaban; ekonomi, keuangan Islam dan pembangunan pesisir; ekonomi biru dan pembangunan berkelanjutan; geopolitik dan keamanan Selat Melaka; transformasi digital, kecerdasan buatan dan digital humanities; serta pengembangan research-based tourism dan warisan peradaban.

Pada kajian sejarah, perhatian antara lain diarahkan kepada Melaka, Aceh, Siak Sri Indrapura, Johor–Riau–Lingga, Kampar serta kerajaan-kerajaan Melayu lainnya beserta jaringan politik dan intelektualnya. Sementara bidang manuskrip dan pendidikan Islam memberi ruang khusus kepada kajian kitab Jawi, manuskrip Melayu, jaringan ulama, pesantren, madrasah dan perkembangan pendidikan Islam di kawasan pesisir.

Aspek pembangunan kontemporer juga mendapat perhatian besar. Isu ekonomi masyarakat pesisir, UMKM, perdagangan halal, zakat, wakaf dan keuangan Islam akan dibahas berdampingan dengan isu perikanan, ekosistem mangrove, perubahan iklim serta pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan.

Tidak kalah penting, konferensi membuka diskusi mengenai posisi Selat Melaka dalam geopolitik internasional, keamanan maritim, perdagangan dunia, hubungan Indo-Pasifik dan diplomasi maritim. Perkembangan teknologi juga ditempatkan sebagai salah satu isu strategis melalui kajian digitalisasi manuskrip, pemanfaatan Artificial Intelligence dalam pendidikan dan penelitian, ekonomi digital pesisir serta pelestarian kebudayaan menggunakan pendekatan digital humanities.

Salah satu gagasan yang menarik dalam konferensi tahun ini ialah pengembangan Research-Based Tourism and Civilization Heritage. Melalui pendekatan tersebut, kawasan dan situs sejarah tidak hanya dipandang sebagai objek wisata, tetapi sebagai laboratorium ilmiah yang mempertemukan perguruan tinggi, peneliti, masyarakat dan pelaku ekonomi lokal. Konsep ini diharapkan membuka peluang agar riset sejarah dan kebudayaan turut memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Selain konferensi akademik, PIPSM juga menyelenggarakan The Coastal Malacca Strait Scholars Award 2026 sebagai bentuk penghargaan terhadap ilmuwan dan tokoh yang memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, kebudayaan dan peradaban di kawasan Pesisir Selat Melaka. Program penghargaan tersebut diharapkan membangun tradisi apresiasi sekaligus mempertemukan generasi ilmuwan lintas negara dalam satu jaringan keilmuan.

Hasil konferensi direncanakan diterbitkan melalui prosiding internasional ber-ISBN, publikasi pada jurnal bereputasi sesuai proses seleksi masing-masing jurnal, serta buku “The Malacca Strait Scholars 2026.” Selain itu, pertemuan tersebut ditargetkan menghasilkan deklarasi PIPSM 2026, rekomendasi kebijakan, serta perluasan jaringan penelitian di antara para peserta dan institusi yang terlibat.

Tahapan penerimaan makalah telah dijadwalkan mulai 15 September hingga 10 Oktober 2026 untuk registrasi abstrak, pengiriman abstrak dan nominasi penghargaan. Pengumuman abstrak diterima dijadwalkan pada 15 Oktober 2026, dilanjutkan pengiriman full paper dan pembayaran hingga 25 Oktober 2026. Pendaftaran peserta umum berlangsung hingga 31 Oktober 2026, sebelum pelaksanaan konferensi pada 12 November 2026.

Peserta dapat mengikuti kegiatan sebagai on-site presenter, hybrid presenter, peserta khusus Scholar Award, maupun peserta umum. Kehadiran akademisi, peneliti, mahasiswa, budayawan, pemerhati manuskrip, praktisi pembangunan, pemerintah daerah dan masyarakat diharapkan menjadikan konferensi ini bukan sekadar forum penyampaian makalah, tetapi ruang membangun kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara.

Dengan spirit “People, Knowledge, Heritage, Collaboration” serta semboyan “For a Shared Sea, A Sustainable Future,” PIPSM ingin menempatkan Selat Melaka sebagai sebuah ruang bersama. Laut yang selama berabad-abad menghubungkan manusia, kerajaan, perdagangan dan ilmu pengetahuan tersebut diharapkan kembali menjadi jembatan yang menghubungkan gagasan untuk masa depan.

Melalui International Conference PIPSM 2026 & The Coastal Malacca Strait Scholars Award 2026, warisan sejarah tidak berhenti sebagai nostalgia. Manuskrip tidak hanya tersimpan sebagai benda lama, dan Selat Melaka tidak semata dibaca sebagai jalur ekonomi. Ketiganya ditempatkan sebagai sumber pengetahuan untuk membangun masa depan kawasan yang lebih berilmu, berbudaya, inklusif dan berkelanjutan.

Pendaftaran Klik disini


Berita Terkait